PRATIWI, TRIA ELSA and Witradharma, Tetes Wahyu (2026) GAmbaran Asupan Zat Besi, Asupan Inhibitor, Asupan Enhancer Dan Status Gizi Remaja Kelas Viii Di Smp Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2026. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
|
Text
BAB I.pdf Download (327kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Download (461kB) |
|
|
Text
BAB III (I).pdf Restricted to Repository staff only Download (481kB) | Request a copy |
|
|
Text
HALAMAN DEPAN.pdf Download (549kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Repository staff only Download (489kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (304kB) |
|
|
Text
HALAMAN BELAKANG.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
KTI FULL TRIA ELSA PRATIWI (1).pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Pendahuluan: Defisiensi zat besi merupakan salah satu masalah gizi yang masih banyak ditemukan pada kelompok remaja. Kondisi ini terjadi ketika kebutuhan fisiologis tubuh terhadap zat besi tidak dapat dipenuhi melalui makanan yang dikonsumsi. Rendahnya asupan zat besi dapat disebabkan oleh pola makan yang kurang beragam, rendahnya konsumsi sumber pangan hewani, serta tingginya konsumsi makanan yang mengandung inhibitor penyerapan zat besi seperti fitat, tanin, dan kalsium. Tujuan: untuk mengetahui gambaran asupan zat besi, supan inhibitor, asupan enhancer, dan status gizi remaja kelas VIII di SMP Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Kota Bengkulu pada bulan Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kota Bengkulu sebanyak 160 siswa. Sampel penelitian sebanyak 62 responden yang diperoleh menggunakan teknik cluster sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Data asupan zat besi diperoleh menggunakan formulir food recall 1×24 jam. Data asupan inhibitor dan enhancer diperoleh menggunakan formulir Food Frequency Questionnaire (FFQ). Data status gizi diperoleh melalui pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital dan tinggi badan menggunakan microtoise, kemudian dihitung menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Data yang telah terkumpul dilakukan proses editing, coding, entry, cleaning, dan dianalisis secara univariat untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel penelitian.Hasil: Gambaran Asupan Zat Besi Sebagian besar responden memiliki asupan zat besi kurang. Pada responden laki-laki sebanyak 25 orang (89,3%) memiliki asupan zat besi kurang dan 3 orang (10,7%) memiliki asupan lebih. Pada responden perempuan seluruhnya (100%) memiliki asupan zat besi kurang. Gambaran Asupan Inhibitor Sebanyak 30 responden (48,8%) berada pada kategori tidak pernah mengonsumsi inhibitor, sedangkan masing-masing 16 responden (25,8%) berada pada kategori biasa dikonsumsi dan kadang-kadang dikonsumsi. Bahan makanan inhibitor yang paling banyak dikonsumsi adalah bayam (54,8%), susu kental manis (53,2%), apel (43,5%), brokoli (43,5%), dan cokelat batang (40,3%). Gambaran Asupan Enhancer Sebagian besar responden berada pada kategori tidak pernah mengonsumsi enhancer yaitu sebanyak 35 responden (56,5%). Sebanyak 15 responden (24,2%) berada pada kategori kadang-kadang dan 12 responden (19,4%) berada pada kategori biasa dikonsumsi. Bahan makanan enhancer yang paling banyak dikonsumsi adalah daging ayam (75,8%), mangga (51,6%), jeruk manis (41,9%), pepaya (40,3%), dan jambu biji (37,1%). Gambaran Status Gizi Sebagian besar responden memiliki status gizi baik yaitu sebanyak 50 responden (80,6%). Responden dengan status gizi kurang sebanyak 2 orang (3,2%), gizi lebih sebanyak 5 orang (8,1%), dan obesitas sebanyak 5 orang (8,1%). Pembahasan Gambaran Asupan Zat Besi Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki asupan zat besi kurang. Kondisi ini dapat disebabkan oleh rendahnya konsumsi bahan makanan sumber zat besi terutama sumber heme iron seperti daging merah, hati, dan ikan. Remaja membutuhkan zat besi dalam jumlah yang lebih tinggi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia defisiensi besi. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan kurangnya konsumsi makanan bergizi seimbang juga dapat menyebabkan rendahnya asupan zat besi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki tingkat kecukupan zat besi yang masih rendah. Gambaran Asupan Inhibitor Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah responden berada pada kategori tidak pernah mengonsumsi inhibitor. Namun demikian masih terdapat responden yang mengonsumsi bahan makanan inhibitor ix seperti susu kental manis, teh hijau, cokelat batang, dan kacang-kacangan. Bahan makanan tersebut mengandung tanin, polifenol, fitat dan kalsium yang dapat menghambat penyerapan zat besi dalam usus. Apabila dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber zat besi maka jumlah zat besi yang diserap tubuh akan menurun. Gambaran Asupan Enhancer Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori tidak pernah mengonsumsi enhancer. Rendahnya konsumsi enhancer dapat menyebabkan penyerapan zat besi tidak optimal. Vitamin C merupakan enhancer utama yang dapat meningkatkan absorpsi zat besi non-heme dengan mengubah bentuk ferri menjadi ferro sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Buah-buahan seperti jeruk, mangga, pepaya dan jambu biji merupakan sumber vitamin C yang baik. Oleh karena itu konsumsi buah dan sayur sumber vitamin C perlu ditingkatkan terutama bersamaan dengan konsumsi makanan sumber zat besi. Gambaran Status Gizi Sebagian besar responden memiliki status gizi baik. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum kebutuhan energi dan zat gizi makro responden masih dapat terpenuhi. Namun demikian masih ditemukan responden dengan status gizi kurang, gizi lebih dan obesitas. Status gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti asupan makanan, aktivitas fisik, penyakit infeksi, dan kondisi sosial ekonomi. Meskipun sebagian besar responden memiliki status gizi baik, rendahnya asupan zat besi tetap perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko anemia pada remaja. Simpulan: penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki pengetahuan gizi kategori sedang, sikap mendukung terhadap makanan bergizi seimbang, dan status gizi normal. Diperlukan peningkatan edukasi gizi secara berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku gizi remaja.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | pengetahuan gizi, sikap, gizi seimbang, status gizi, remaja |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions: | Jurusan Gizi > D3 Gizi |
| Depositing User: | GIZI GIZI |
| Date Deposited: | 08 Sep 2026 03:31 |
| Last Modified: | 08 Sep 2026 03:31 |
| URI: | http://repository.poltekkesbengkulu.ac.id/id/eprint/4955 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
